SELUK-BELUK PENYAKIT TIFUS

“ Salah besar jika menganggap enteng penyakit ini. Sebab jika kambuh lagi, akan lebih membahayakan.”

Penyakit yang ditandai dengan demam tinggi ini kerap menyerang anak-anak. Termasuk balita. Sayangnya, banyak orang tua menganggap remeh tifus. Banyak juga yang masih beranggapan, kalau sudah pernah kena tifus, tak bakalan kena lagi. Padahal, salah besar. Justru lebih bahaya dan bisa menyebabkan kematian.

Di Indonesia, diperkirakan antara 800 – 100.000 orang terkena tifus atau demam tifoid sepanjang tahun. Demam ini terutama muncul di musim kemarau dan konon anak perempuan lebih sering terserang. Yang jelas, meski tifus bisa menyerang anak di atas umur 1 tahun, “korban” paling banyak adalah anak usia 5 tahun. “Tapi belakangan ini, serangan terhadap anak di bawah umur 5 tahun, meningkat jadi 15 persen,” kata dr. Arlin Algerina, SpA, dari RS Internasional Bintaro.

Demam Tifoid

Demam tifoid atau sering disebut dengan tifus, merupakan salah satu jenis penyakit pencernaan yang cukup banyak diderita di Indonesia, dan dapat menyebabkan kematian. Sebenarnya apakah deman tifoid itu dan bagaimana cara pencegahannya?
Tifus ini disebabkan oleh kuman atau bakteri yang disebut Salmonella typhi (S. typhi).

Kuman ini mempunyai 107 strain yang berbeda. Sedangkan Paratifoid sendiri, penyebabnya adalah kuman Salmonella paratyphi A, B atau C. Gejala penyakit dari Paratifoid mirip dengan penyakit tifus, hanya infeksi yang terjadi mempunyai gejala yang lebih ringan.
Penyakit ini menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi kuman tifus

ini. Tinja yang mengandung kuman tifus ini mencemari air untuk minum maupun untuk masak dan mencuci makanan. Dapat juga disebabkan karena makanan tersebut disajikan oleh seorang penderita tifus laten (tersembunyi) yang kurang menjaga kebersihan saat memasak.
Seseorang dapat membawa kuman tifus dalam saluran pencernaannya, tanpa sakit, ini

Yang disebut dengan penderita laten. Penderita ini dapat menularkan penyakit tifus ini ke banyak orang, apalagi bila dia bekerja dalam menyajikan makanan bagi banyak orang seperti tukang masak di restoran.

Gejala dari tifus ini biasanya dimulai dengan demam yang muncul tiba-tiba, terutama pada sore hari, lidah terlihat putih kotor, nyeri pada perut, tidak nafsu makan, sakit kepala, mual-muntah, sembelit atau bisa juga diare.
Tifus ini dapat disembuhkan dengan pemberian antibiotika. Walaupun saat ini telah

Banyak antibiotika yang sudah tidak mempan lagi dalam membunuh kuman tifus ini sebagai akibat penggunaannya yang tidak rasional.

MASUK LEWAT MULUT.

Demam tifoid, jelas Arlin, adalah infeksi akut yang disebabkan bakteri Salmonella typhi.

Tidak seperti virus yang dapat beterbangan di udara, bakteri ini hidup di sanitasi yang buruk seperti lingkungan kumuh, makanan, dan minuman yang tidak higienis. “Dia masuk ke dalam tubuh melalui mulut, lalu menyerang tubuh, terutama saluran cerna.”

Proses bekerjanya bakteri ini ke dalam tubuh manusia lumayan cepat. Yaitu 24-72 jam setelah masuk, meski belum menimbulkan gejala, tetapi bakteri telah mencapai organ-organ hati, kandung empedu, limpa, sumsum tulang, dan ginjal. “Rentang waktu antara masuknya kuman sampai dengan timbulnya gejala penyakit, sekitar 7 hari.”

Nah, gejalanya sendiri baru muncul setelah 3 sampai 60 hari. Pada masa-masa itulah kuman akan menyebar dan berkembang biak. Organ tubuh lalu merangsang sel darah putih mengeluarkan zat interleukin. Zat inilah yang akan merangsang terjadinya gejala demam. Kuman yang masuk ke hati akan masuk kembali dalam peredaran darah dan menyebar ke organ tubuh lainnya.

Namun tidak seluruh bakteri Salmonella typhi dapat menyebabkan demam tifoid. “Saat kuman masuk, tubuh berupaya memberantas kuman dengan berbagai cara. Misalnya, asam lambung berupaya menghancurkan bakteri, sementara gerakan lambung berupaya mengeluarkan bakteri. Jika berhasil, orang tersebut akan terhindar dari demam tifoid.”

KENALI GEJALA .

Cara terbaik menghadapi demam tifoid adalah mengetahui gejala awal penyakit ini. Antara lain:

  • Demam lebih dari seminggu.

Siang hari biasanya terlihat segar namun malamnya demam tinggi. Suhu tubuh naik-

turun.

  • Mencret.
    Bakteri Salmonella typhi juga menyerang saluran cerna karena itu saluran cerna terganggu. Tapi pada sejumlah kasus, penderita malah sulit buang air besar.
  • Mual Berat.

Bakteri Salmonella typhi berkumpul di hati, saluran cerna, juga di kelenjar getah bening. Akibatnya, terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga terjadi rasa mual.

  • Muntah.
    Karena rasamual, otomatis makanan tak bisa masuk secara sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut. Karena itu harus makan makanan yang lunak agar mudah dicerna. Selain itu, makanan pedas dan mengandung soda harus dihindari agar saluran cerna yang

Sedang luka bisa diistirahatkan.

  • Lidah kotor.

Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya anak akan merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang asam-asam atau pedas.

  • Lemas, pusing, dan sakit perut.

  • Terkesan acuh tak acuh bahkan bengong.

Ini terjadi karena adanya gangguan kesadaran. Jika kondisinya semakin parah, seringkali tak sadarkan diri / pingsan.

  • Tidur pasif.

Penderita merasa lebih nyaman jika berbaring atau tidur. Saat tidur, akan pasif (tak banyak gerak) dengan wajah pucat.

PENGOBATAN HARUS TUNTAS

Bila demam tifoid masih terbilang ringan, istilahnya gejala tifus atau paratifus, dokter akan menyarankan banyak istirahat, banyak minum, dan obat antibiotik yang diberikan harus dihabiskan. Perawatan dan pengobatan bertujuan menghentikan invasi kuman, memperpendek perjalanan penyakit, mencegah terjadinya komplikasi, serta mencegah agar tak kambuh kembali.

” Sebab, meski masih tahap ringan, kuman terus menyebar dan berkembang-biak dengan cepat,” jelas Arlin.

Sayangnya, diagnosa demam tifoid pada anak-anak cukup sulit dilakukan. “Pada sejumlah anak, mereka tak mengeluh mual, pusing, atau suhu tubuhnya tinggi. Anak hanya bisa menangis atau rewel.” Pemeriksaan laboratorium pun kerap sulit dilakukan karena anak umumnya meronta jika harus diambil darahnya. Untuk tifus yang sudah berat, penderita diharuskan menjalani perawatan di rumah sakit. Biasanya selama 5-7 hari harus terus berbaring. “Setelah melewati hari-hari itu, proses penyembuhan akan dilanjutkan dengan memobilisasi bertahap.” Hari pertama, dudukkan anak 2 x 15 menit, lalu meningkat 2 x 30 menit di hari kedua, dan seterusnya. Baru kemudian belajar jalan.

BISA KAMBUH LAGI

Yang jelas, lanjut Arlin, demam tifoid tak boleh dianggap enteng. ” Harus diobati secara total.” Karena itu, jika dosis obat ditetapkan 4 kali sehari, harus ditaati. ” Kalau cuma diminum 3 kali sehari, kuman tak akan mati.” Pengobatan yang tak tuntas, membuat bakteri akan terus terbawa dan berkembang biak. ” Tingkat kemungkinan kambuh lagi, sampai 15 persen. “

Arlin kembali mengingatkan, betapa cepatnya bakteri ini berkembang biak dan menjalar ke mana-mana melalui pembuluh darah. ” Bisa menyerang paru-paru, hati, hingga otak .”  Padahal, jika demam tifoid sudah tergolong berat, akan sulit diobati karena sudah terlanjur terjadi komplikasi. Misalnya, bakteri sudah membuat usus bocor (perforasi) sehingga timbul pendarahan ketika buang air besar. Usus pun sudah sulit sekali mencerna makanan karena selaputnya sudah terinfeksi (peritonitis).” Tak ada jalan lain, kecuali operasi untuk memperbaiki ususnya yang bolong .”

Serangan lainnya adalah ke paru-paru yang membuat penderita sulit bernapas. Yang lebih parah, jika bakteri sudah masuk ke otak. ” Anak akan kejang-kejang, tak sadarkan diri, bahkan koma beberapa saat. “

Pencegah Demam Tifoid

Menurut Arlin, pencegahan harus dilakukan dari 2 hal :

LINGKUNGAN HIDUP.

  1. Sediakan air minum yang memenuhi syarat. Misalnya, diambil dari tempat yang higienis, seperti sumur dan produk minuman yang terjamin. Jangan gunakan air yang sudah tercemar. Jangan lupa, masak air  terlebih dulu hingga mendidih (100 derajat C).
  2. Pembuangan kotoran manusia harus pada tempatnya. Juga jangan pernah membuangnya Secara sembarangan sehingga mengundang lalat karena lalat akan membawa bakteri Salmonella typhi Terutama ke makanan.
  1. Bila di rumah banyak lalat, basmi hingga tuntas.

DIRI SENDIRI.

  1. Lakukan vaksinasi terhadap seluruh keluarga. Vaksinasi dapat mencegah kuman masuk dan Berkembang  biak. Saat ini pencegahan terhadap kuman Salmonella sudah bisa dilakukan dengan vaksinasi bernama chotipa (cholera-tifoid-paratifoid) atau tipa (tifoid-paratifoid). Untuk anak usia 2 tahun yang masih rentan, bisa juga divaksinasi.
  2. Menemukan dan mengawasi pengidap kuman (carrier). Pengawasan diperlukan agar dia tidak lengah terhadap kuman yang dibawanya. Sebab jika dia lengah, sewaktu-waktu penyakitnya akan kambuh.

Kebal Antibiotik

Yang ” mengerikan “, papar Arlin, penelitian menunjukkan, kini banyak kuman Salmonella typhi yang kebal terhadap antibiotika. Akhirnya, penyakit ini makin sulit disembuhkan. ” Tapi untungnya metode pengobatan juga sudah maju sehingga separah apa pun, bisa disembuhkan .”

Hanya saja, jika bakteri sudah menyerang otak, tetap akan membawa dampak. Misalnya, kesadarannya berkurang, kurang cepat tanggap, dan lambat dalam mengingat. Jadi, jangan sepelekan demam tifoid dan rawat anak baik-baik jika ia terserang penyakit ini.

Makanan Yang Dianjurkan

  • Boleh semua jenis makanan, yang penting lunak.
  • Makanan harus mudah dicerna, mengandung cukup cairan, kalori, serat, tinggi protein dan vitamin, tidak merangsang dan tidak menimbulkan banyak gas]
  • Makanan saring/lunak diberikan selama istirahat.
  • Jika kembali kontrol ke dokter dan disarankan makan nasi yang lebih keras, harus dijalankan.
  • Untuk kembali ke makanan ” normal “, lakukan secara bertahap bersamaan dengan mobilisasi. Misalnya hari pertama makanan lunak, hari ke-2 makanan lunak, hari ke-3 makanan biasa, dan seterusnya.

Asuhan Keperawatan Demam Tifoid (Tifus).

Sebagai salah satu penyakit yang menganggu dan lumrah terjadi di Indonesia, tifus berbeda dengan berbagai penyakit menular seperti demam berdarah atau penyakit lainnya yang sifatnya musiman, karena tifus dapat terjadi sepanjang tahun dan tidak mengenal musim. Penyakit ini dalam dunia kesehatan Indonesia sebagai demam tifoid yang merupakan penyakit infeksi akut usus halus dan bersifat menular. Seseorang dapat tertular tifus apabila terjadi kontak langsung dengan penderita, lewat kotoran, urine, atau muntahannya yang mengandung bakteri salmonella typhi sebagai organisme yang menjadi sumber infeksinya. Namun paling banyak Patogenesis terjadinya demam tifoid seperti berikut

Manifestasi Klinis dari demam tifoid adalah:

Minggu I : Gejala mirip gejala akut infeksi seperti demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, dan muntah, konstipasi/diare, perasaan tidak enak di perut, batuk, epistaxis ( mimisan ).

Minggu II  : Demam, bradikardi relatif, lidah tifoid ( putih), hematomegali (pembesaran hati ),

splenomegali, gangguan kesadaran seperti somnolen, koma.

Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh demam tifoid adalah perdarahan usus atau perforasi (kebocoran) usus jika tidak mendapat pertolongan yang tepat. Perdarahan usus ini dapat terjadi pada saat demam tinggi, ditandai dengan suhu mendadak turun, nadi meningkat cepat, dan tekanan darah menurun.

Selain itu juga dapat terjadi komplikasi selain di sistem pencernaan seperti :

  • Ginjal: glomerulonefritis, pielonefritis, spondilitis, GGA (gagal ginjal akut)/GGK (gagal ginjal kronik).
  • Kardiovaskuler: kegagalan sirkulasi renjatan, syok, miokarditis.
  • Darah: anemia hemolitik, trombositopenia, DIC, sindrom uremik hemolitik.
  • Paru: pneumonia, empisema, pleuritis.
  • Hepar: hepatitis, kolelitiasis
  • Tulang: osteomielitis, periotitis, spondilitis, arthritis.
  • Neuropsikiatrik: delirium, meningismus, psikosis.

Adapun diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :

  • Resiko gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, anoreksi, muntah, mual.
  • Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan output yang berlebihan.
  • Resiko terjadinya gangguan proses piker.
  • Keterbatasan aktifitas berhubungan dengan kelemahan.
  • Umumnya pasien demam tifoid membutuhkan perawatan di rumah sakit karena beresiko menderita kekurangan cairan. Namun bila demam tifoid ini terjadi pada anak, terkadang dokter mempertimbangkan untuk perawatan di rumah. Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan untuk perawatan demam tifoid di rumah:
  • Pisahkan anak penderita demam tifoid dari saudara-saudaranya untuk menghindari penularan. Bahkan bila ibu menemani, tidak disarankan untuk tidur bersama dengan anak yang sakit. Sebaiknya tempatkan anak yang sakit di kamar tersendiri, tentunya dengan perhatian penuh dari kedua orang tua untuk menghindari perasaan terisolir/kesepian pada anak tersebut.
  • Upayakan klien dengan demam tifoid beristirahat total di tempat tidur sampai demamnya turun. Demam bisa berlangsung selama dua minggu. Setelah demam turun, teruskan istirahat sampai suhu normal kembali. Jelaskan pada anak bahwa untuk mandi, buang air besar dan kecil harus meminta pertolongan kepada ibu atau orang dewasa lainnya yang ada di rumah.
  • Ingatkan kepada siapa saja yang membantu untuk selalu mencuci tangan dengan desinfektan sebelum dan sesudah kontak dengan anak yang sakit.
  • Seperti halnya di rumah sakit, orang tua perlu mengukur suhu tubuh anak dan mencatatnya. Catatan suhu tubuh ini sangat penting untuk dikonsultasikan ke dokter dan bila ada peningkatan suhu tubuh yang tinggi.
  • Biasanya dokter memberikan obat yang sudah diperhitungkan sampai suhu tubuh turun. Jika obat hampir habis, sementara suhu tubuh makin tinggi, konsultasikanlah ke pelayanan medis atau dokter karena mungkin membutuhkan perawatan yang lebih intensif di rumah sakit.
  • Untuk membantu mempercepat penurunan suhu tubuh, upayakan agar anak banyak minum air putih, dikompres dengan air hangat, dan jangan menutupinya dengan selimut agar penguapan suhu lebih lancer.
  • Berikan makanan yang mengandung banyak cairan dan bergizi seperti sop dan sari buah, juga makanan lunak, seperti bubur.
  • Pembuangan feses dan urine harus dipastikan dibuang ke dalam WC dan disiram dengan air sebanyak-banyaknya. WC dan sekitarnya pun harus bersih agar tidak ada lalat yang akan membawa kuman ke mana-mana. Bila anak menggunakan pot atau urinal untuk BAK dan BAB, jangan lupa untuk merendamnya dengan cairan desinfektan setelah dipakai.
  • Rendam pakaian anak dengan desinfektan sebelum dicuci, dan jangan mencampurnya dengan pakaian yang lain.

Cegah dengan Vaksin Tifoid.

TIFUS tak bisa dianggap remeh. Sebab bila dibiarkan bisa menyebabkan pembengkakan hati, limfa, dan menyebabkan luka pada usus. Kondisi tersebut sangat tergantung pada kekebalan tubuh masing-masing penderita.

Para dokter biasanya memberi obat antibiotik pada penderita tifus. Penyembuhan akan banyak terbantu bila penderita cukup istirahat untuk menghindari metabolisme tubuh berlebihan. Sedapat mungkin mereka tidak mengonsumsi makanan yang sulit dicerna dan makanan berserat tinggi.

Pencegahan tifus dilakukan lewat pemberian vaksinasi tifoid yang harus diperbarui setiap tiga tahun. Vaksin tifoid ini bisa meningkatkan kekebalan tubuh terhadap bakteri Salmonella typhi. Kalaupun terkena tifus biasanya tak sampai membahayakan kondisi jiwa anak.

Vaksin tifoid penting diberikan terutama kepada anak-anak yang sering jajan aneka makanan dan minuman, atau belum sempurna membersihkan bagian tubuh tertentu setelah ia buang air.

Namun di balik berbagai upaya tersebut, pencegahan tetap merupakan cara terbaik. Misalnya, membiasakan cuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan. Begitu juga sesudah buang air besar atau kecil. Tidak jajan sembarangan, selalu mengonsumsi makanan sehat, dan selalu menjaga kebersihan lingkungan. (ricky reynald yulman).

Kenali Gejalanya.

GEJALA klinis tifus pada anak bervariasi selama tujuh hingga 14 hari masa inkubasi. Namun, kebanyakan menyerupai penyakit infeksi akut lainnya. Berikut beberapa antaranya:

Minggu I dan II :

  • Demam
  • sakit kepala
  • nafsu makan menurun
  • mual
  • sakit perut
  • muntah
  • diare atau justru sembelit
  • sulit tidur dan banyak mengiga

Minggu III :

  • demam makin tinggi
  • bibir kering
  • kembung
  • lidah koto
  • sakit kepala
  • nafsu makan menurun
  • mual
  • sakit perut
  • muntah
  • diare atau justru sembelit
  • sulit tidur dan banyak mengigau
  • sakit kepala
  • nafsu makan menurun
  • mual
  • sakit perut
  • muntah
  • diare atau justru sembelit
  • sulit tidur dan banyak mengigau

Kenalkan; Tifus Abdominalis!

Jangan biarkan ia berkembang. Jangan beri kesempatan untuk membuatmu meradang. Ada baiknya kita serius menghadapi bakteri ini sebelum segalanya terlambat.

Dini, gadis berusia 20 tahun yang banyak aktivitas, baik di kampus maupun rohis, tidak nampak batang hidungnya.?آ Dia sedang menderita demam berkepanjangan, Sudah lebih dari seminggu Dini terbaring di kamarnya. Badannya pegel-pegel, panas, lesu, juga nyeri kepala.?آ Mulanya dia mengira hanya karena terlalu lelah saja. Tapi ketika kondisinya tidak membaik meskipun sudah 1 minggu ini berbaring saja, bahkan panasnya makin tinggi, dan badannya makin lemah, temannya memaksanya pergi ke dokter. Dari hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium, dokter menyimpulkan Dini terkena penyakit tipus.

Apa sih tipus itu? Kok rasa-rasanya banyak sekali yang terkena tifus ini, bahkan rata-rata harus menginap dia rumah sakit. Apa ya penyebabnya? Apa mesti dirumah sakitkan? Yuk, sobat muda kita simak uraian dai bawah ini.

Mengenal Typhus Abdominalis.
Typphus Abdominalis atau yang lebih dikenal dengan demam tifoid atau tifes dalam

bahasa kita adalah suatu penyakit infeksi akut yang menyerang usus halus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja mulai dari anak-anak hingga orang dewasa dan orang tua, laki-laki maupun wanita.?آ

Terjadinya penyakit yang merupakan penyakit menular ini tidak memandang musim, baik musim kemarau maupun penghujan. Penularan penyakit ini melalui makanan yang tercemar. Nah, hati-hati bagi yang sering dimasakin oleh tukang warung makan. Kadang kebersihan makanan kurang terjamin. Makanya perlu selektif, tidak hanya soal menu, tapi juga hygiene dan sanitasi tempat makan.?آ So, harap waspada para anak kos! Tapi ini juga tiidak berarti masakan rumah pasti bebas kuman, lho.

Penyakit demam tifoid ini mendunia, artinya terdapat di seluruh dunia. Tetapi lebih banyak di negara sedang berekembang di daerash tropis, seperti Indonesia. Penyakit tifus merupakan endemik di Indonesia. Penyakit ini termasuk penyakit menular, yang mudah menyerang banyak orang, sehingga dapat menimbulkan wabah.

Kapan kita curiga kalau kena tifes? Pasang mata baik-baik ya, supaya tidak keliru. Karena banyak orang mengira bahanya sakit biasa, dan dibiarkan tanpa pengobatan yang benar, tahu-tahu ternyata terkena penyakit tifus. Gejala klinis pada anak-anak biasanya lebih ringan daripada orang dewasa. Masa tunas rata-rata 10-20 hari. Namun bisa juga hanya 4 hari, jika terinfeksinya melalui kuman yang ada di makanan.?آ

Selama masa inkubasi akan daitemukan gejala-gejala yang mungkin mirip dengan penyakit lain, seperti tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat. Gejala klinis yang ditemukan setelah masa inkubasi lewat adalah demam tinggi, biasanya malam lebih tinggi daripada siang, dan ini terjadi terus menerus, bisa sampai tiga mingguan.?آ

Kalau kalian panas tinggi sudah lebih dari 1 minnggu jangan anggap sepele, tuh. Segera ke dokter untuk kepastian penyakit. Biasanya sih dokter akan menyarankan untuk periksa laboratorium.?آ Selain panas tinggi, juga tercium bau mulut yang tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah. Juga ditemukan lidah ditutupi selaput putih kotor. Sering ditemukan perut kembung, dan konstipasi alias tidak buang air besar selama beberapa hari. Biasanya juga disertai gangguan kesadaran, bahkan penderita dapat kehilangan kesadaran bila penyakit ini tidak tertangani dengan baik.

Gejala-gejala penyakit tersebut di atas sering dianggap sebagai gejala penyakit lain. Jika gejala-gejala tersebut ditemui, sering orang mengira bahwa dia tidak terserang penyakit tifus, namun penyakit-penyakit dengan demam lama seperti penyakit-penyakit influenza, malaria, TBC.

Nah, penyakit tifus yang tidak tertangani dengan baik, atau diketahui dalam keadaan sudah parah dapat menimpulkan komplikasi atawa akibat ikutan yang cukup berbahaya, baik di usus maupun di organ selain usus. Misalnya terjadi perdarahan usus, atau bahkan usus bisa berlubang.?آ Sementara pada organ di luar usus dapat menimbulkan komplikasi pada sistem peredaran darah, gangguan paru, ginjal, hepar, dan jga sistem kesadaran.

Perawatan dan pengobatan.

Penderita tifus perlu dirawat dirumah sakit untuk isolasi (supaya tidak menularkan pada yang lain), observasi dan pengobatan. Penderita harus tetirah alias baring tiotal minimal 7 hari bebas panas.?آ Wow, lama banget. Bosan atuh. Makanya usahain jangan ssampe berteman sama si tifus ini. Istirahat total ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya komplikasi di usus.

Selama perawatan, penderita juga diberi obat-obatan untuk mengurangi gejala-gejala yang dialami penderita, seperti panas, sakit kepala, mual dsb. Selain itu juga mendapat obat yang akan membasmi kuman penyebab penyakit alias antibiotika. Kalau yang ini nih, wewenang dokter untuk ngresepinnya.

Oya, yang juga diperlukan oleh penderita adalah pengaturan makanan. Untuk sementara, makanan yang dikonsumsi adalah makanan lunak dan tidak banyak berserat. Jadi bagi kamu yang lagi kena tifus jangan banyak makan sembarangan. Sayuran dengan serat kasar seperti daun singkong harus dihindari, termasuk juga temennya daun singkong, yaitu sambel terasi yang pedes. Jadi harus dijaga benar untuk memberi kesempatan kepada usus menjalani upaya penyembuhan.

Kesembuhan penderita penyakit ini dipengaruhi berbagai hal, di antaranya adalah umur, keadaan umum, tingkat kekebalan penderita, jumlah dan daya infeksi kuman yang masuk tubuh, serta cepat dan tepatnya pengobatan.

Masalah penderita carrier.

Setiap orang yang terinfeksi kuman salmonella, akan meng ekskresikan kuman tersebut bersama dengan feses dan air seni selama beberapa waktu tertentu atau sekitar tiga bulan. Jika hal ini terjadi terus menerus setelah lebih tiga bulan maka yang bersangkutan dikatakan sebagai carrier.?آ Orang yang menjadi carrier ini merupakan sumber penularan penyakit tifus kepada orang lain.?آ Kuman tifus bisa tetap ada pada carrier tadi hingga lebih dari 1 tahun. Makanya, carrier kuman tifus tidak diperbolehkan untuk bekerja di industri makanan. Wah, bahaya dong. Makanya jangan anggap sepele, ya.

Pencegahan.

Usaha pencegahan penyakit tifus ini dibagi dalam dua upaya, yaitu terhadap lingkungan hidup dan manusianya sendiri. Penyediaan sarana air minum yang memenuhi syarat, pembuatan jamban yang hygienis, pemberantasan lalat dan pengawasan terhadap rumah makan dan penjual makanan adalah beberapa hal yang dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.

Sedangkan terhadap manusia dilakukan upaya imunisasi untuk memberikan kekebalan tubuh yang kuat, menemukan?آ dan mengawasi para carrier tifoid dan yang utama adalah pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Bila masyarakat memahami bahaya penyakit ini, maka masyarakat akan berusaha untuk menjaga dirinya dan lingkungannya agar selalau bersih dan sehat. Jika demikian halnya, kuman thyfus tidak akan menyerang.

5 “ Rahasia ” Tifus

Sssst… ternyata penderita penyakit tifus tidak harus makan bubur.

Soal bubur baru merupakan salah satu rahasia dari penyakit tifus yang kerap diderita anak-anak. Mengapa bubur tak harus jadi menu utama? Dan apa “rahasia” lainnya, simak penuturan ini:

1. BUBUR TAK HARUS JADI MENU WAJIB PENDERITA TIFUS

Penyakit tifus identik dengan menu ketat berbahan utama bubur. Bahkan bubur itu harus disaring sehalus mungkin. “Biar ususnya tidak tambah sakit,” begitu kata orang. Tidak cuma itu. Berbagai pantangan pun harus dijalani. Tidak boleh makan ini dan itu. Walhasil, penderita hanya makan bubur dengan lauk pauk seadanya. Dengan menu seperti itu, anak yang menderita tifus boleh jadi tidak nafsu makan, bahkan menolak makan. Siapa sih yang mau melahap bubur hambar miskin lauk? Selain itu, kandungan kalori sepiring bubur lebih sedikit ketimbang nasi. Jika sepiring bubur mengandung 80-100 kalori, maka sepiring nasi dapat empat kalinya. Walhasil, bubur tak hanya membuat nafsu makan anak hilang, tapi juga membuat tubuhnya lemas. Jika asupan gizi anak kurang maka dapat dipastikan waktu penyembuhan semakin lama.

Dulu, penderita penyakit tifus wajib makan bubur dengan alasan khawatir terjadi gangguan pada pencernaan atau perdarahan pada usus. Pendapat ini tampaknya perlu diluruskan. Sebab, gangguan pencernaan akibat bakteri Salmonella typhi ada di usus halus. Perlu diketahui, makanan yang sudah masuk usus halus semuanya berbentuk cair. Ini karena sebelumnya makanan itu dikunyah di mulut, lalu diproses di lambung, lalu ke usus halus. Meski asalnya makanan itu padat, tapi kalau sudah masuk usus halus semuanya akan berbentuk cair.

Jadi, sebenarnya tidak ada pantangan buat penderita penyakit tifus makan nasi lembek. Perkecualian jika penderita tidak sadar, maka penderita disarankan mengonsumsi menu makanan cair. Pantangan buat penderita tifus adalah makanan berserat tinggi seperti sayur-sayuran atau buah. Tapi jika diberikan sedikit tidak mengapa. Juga makanan yang berisiko menimbulkan kontraksi pada pencernaan seperti makanan pedas atau asam. Penderita dianjurkan mengonsumsi makanan berprotein tinggi seperti daging, telur, susu, tahu, tempe, dan lain-lain. Dengan demikian, nafsu makan anak membaik, waktu penyembuhan pun semakin cepat.

2. HARUS ISTIRAHAT.

Agar lekas pulih, penderita tifus memang harus banyak beristirahat di tempat tidur. Untuk keperluan buang air, misalnya, sedapat mungkin penderita tidak beranjak dari tempat tidur. Banyak pergerakan dapat menyebabkan suhu naik. Bahkan jika terlalu heboh, aktif bergerak dapat menimbulkan risiko usus pecah. Jadi, biarkan si kecil tetap istirahat dan tidak terlalu banyak bergerak. Temani, hibur, atau bacakan dongeng jika perlu.

3. TES WIDAL POSITIF TIDAK SELAMANYA TIFUS.

Untuk mengetahui seseorang terjangkit tifus atau tidak, maka tes yang umum digunakan adalah tes Widal. Jika positif berarti tifus, jika tidak maka mungkin penderita terjangkit penyakit lain. Padahal, Widal positif tidak selalu berarti penderita terjangkit tifus. Ini karena orang sehat sekalipun jika dites widal hasilnya bisa positif. Seorang dokter penyakit dalam bahkan pernah berkelakar, jika pasien, perawat, bahkan dokter yang berpraktik di kliniknya dites Widal, maka bukan tidak mungkin hasilnya positif semua.

Ingat, kebersihan merupakan sebuah hal yang sulit dicari di negeri ini. Nasi goreng yang biasa kita santap bersama teman, es jeruk yang diseruput di warung tegal, bahkan menu makanan di kantin, tidak ada jaminan bebas tifus 100%. Namun, karena jumlah kuman yang masuk ke dalam tubuh tidak sampai menginfeksi, sakit tifus pun tidak terjadi. Ini berbeda dengan kondisi di Eropa atau Singapura yang sanitasinya sudah baik. Tes Widal positif berarti kemungkinan besar terjadi infeksi tifus.

Namun, tidak berarti tes Widal diragukan akurasinya. Jika tesnya dilakukan di waktu yang tepat, plus diagnosis klinisnya benar, maka penyakit tifus dapat dengan mudah terdeteksi. Tes Widal idealnya dilakukan setelah hari ke-5 atau 6, sesudah penderita mengalami gejala klinis tifus yaitu demam. Jika dilakukan sebelum itu maka hasilnya tidak akurat. Selain itu, selidiki juga gejala lainnya seperti sembelit, nyeri perut, lidah kotor, muntah, dan lain-lain. Dengan kombinasi tes Widal dan deteksi gejala, maka penyakit tifus dapat dideteksi dengan mudah. Selain harganya yang lebih ekonomis, tes Widal juga dapat mendeteksi penyakit paratifus, sebuah penyakit dengan gejala mirip tifus tapi lebih ringan. Paratifus disebabkan bakteri Salmonella paratiphy. Sedangkan tifus disebabkan bakteri Salmonella typhi.

Selain tes Widal, ada tes yang lebih akurat, yaitu tes TUBEXR yang merupakan tes imunologi. Merupakan tes dengan menggunakan partikel yang berwarna untuk meningkatkan sensitivitas. Tes ini sangat akurat dalam diagnosis infeksi akut pada tifus. Beberapa penelitian menyimpulkan, tes ini mempunyai sensitivitas lebih baik daripada uji Widal. Tes ini dapat menjadi pemeriksaan yang ideal, dapat digunakan untuk pemeriksaan secara rutin karena cepat, mudah dan sederhana, terutama di negara berkembang. Meski begitu, tes ini hanya dapat mendeteksi penyakit tifus, tapi tidak paratifus yang kerap menyertai tifus. Tes yang lebih akurat adalah pembiakan kuman dari darah, urine, feses, sumsum tulang, atau cairan lainnya. Hasil biakan yang positif memastikan demam tifoid. Media pembiakan yang direkomendasikan untuk S. typhi adalah media empedu. Ini karena S. typhi dan S. paratyphi dapat tumbuh pada media tersebut. Namun, tes biakan kuman sebaiknya dilakukan sebelum penderita diobati antibiotika.

Meski sangat akurat dan dapat mendiagnosis tifus dan paratifus, diagnosis biakan kuman membutuhkan waktu lama (5-7 hari) serta peralatan yang lebih canggih untuk identifikasi bakteri sehingga tidak praktis untuk diagnosis penderita.

4. TIFUS ADALAH PENYAKIT BUKAN GEJALA.

Banyak bakteri yang menegakkan diagnosis penyakit “gejala tifus”. Ini jelas sebuah diagnosis rancu, karena dalam dunia kedokteran tidak mengenal istilah ini. Diagnosis harus tegas, apakah penderita terjangkit penyakit tifus atau tidak. Kalau mau, dokter mengatakan diagnosis dugaan tifus. Kenali gejala tifus dengan baik, jika demamnya sampai 5-6 hari hilang timbul maka kemungkinan penderita terjangkit tifus. Tapi jika tidak demam, atau demamnya turun setelah tiga hari, ada kemungkinan penderita tidak terjangkit tifus. Ada banyak penyakit infeksi lain yang disertai demam.

Apalagi pada hari-hari pertama demam, sulit untuk dapat memastikannya sebagai demam tifoid. Gejala demam juga terdapat pada penyakit lain seperti demam dengue, morbili, dan sebagainya.

5. TIFUS DIBAWA OLEH CARRIER .

Banyak orang yang tidak terlihat sakit tapi berpotensi menyebarkan penyakit tifus. Inilah yang disebut dengan pembawa penyakit tifus. Meski sudah dinyatakan sembuh, bukan tidak mungkin mantan penderita masih menyimpan bakteri tifus dalam tubuhnya. Bakteri bisa bertahan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Ini karena sebagian bakteri penyebab tifus ada yang bersembunyi di kantong empedu. Bisa saja bakteri ini keluar dan bercampur dengan tinja. Nah, bakteri ini dapat menyebar lewat air seni atau tinja penderita.

MENGENAL PENYAKIT TIFUS

Bakteri Salmonella typhi merupakan bakteri yang bertanggung jawab terhadap penyakit ini. Kuman ini dapat hidup lama di air yang kotor, makanan tercemar, dan alas tidur yang kotor. Siapa saja dan kapan saja dapat menderita penyakit ini. Termasuk bayi yang dilahirkan dari ibu yang terkena demam tifoid.

Lingkungan yang tidak bersih, yang terkontaminasi dengan Salmonella typhi merupakan penyebab paling sering timbulnya penyakit tifus. Kebiasaan tidak sehat seperti jajan sembarangan, tidak mencuci tangan menjadi penyebab terbanyak penyakit ini. Penyakit tifus cukup menular lewat air seni atau tinja penderita. Penularan juga dapat dilakukan binatang seperti lalat dan kecoa yang mengangkut bakteri ini dari tempat-tempat kotor.

Masa inkubasi penyakit ini rata-rata 7 sampai 14 hari. Manifestasi klinik pada anak umumnya bervariasi. Demam adalah gejala yang paling utama di antara semua gejala klinisnya. Pada minggu pertama, tidak ada gejala khas dari penyakit ini. Bahkan, gejalanya menyerupai penyakit infeksi akut lainnya. Gejala yang muncul antara lain demam, sering bengong atau tidur melulu, sakit kepala, mual, muntah, nafsu makan menurun, sakit perut, diare atau justru sembelit (sulit buang air besar) selama beberapa hari. Peningkatan suhu bertambah setiap hari. Setelah minggu kedua, gejala bertambah jelas. Demam yang dialami semakin tinggi, lidah kotor, bibir kering, kembung, penderita terlihat acuh tidak acuh, dan lain-lain.

Pada penderita penyakit tifus yang berat, disarankan menjalani perawatan di rumah sakit. Antibiotika umum digunakan untuk mengatasi penyakit tifus. Waktu penyembuhan bisa makan waktu 2 minggu hingga satu bulan.

Vaksinasi tifoid sangat dianjurkan untuk mencegah penyakit. Apalagi jika si kecil terkenal doyan jajan. Juga, anak balita yang sudah pandai “nenangga”, atau yang belum bisa cebok dengan benar. Vaksinasi harus diperkuat setiap 3 tahun. Ini karena setelah kurun waktu itu, kekebalan terhadap penyakit tifus akan berkurang. Umumnya, seusai divaksinasi, tubuh akan kebal, atau kalupun terkena maka penyakit yang menyerang tidak sampai membahayakan anak.

BAYI KENA TIFUS? MASAK IYA, SIH?

Imunisasi untuk mencegah tifus pada bayi memang belum ada. Namun infeksi ini sangat mungkin disembuhkan hingga tuntas.

Rasanya sulit dipercaya kalau  si kecil yang masih bayi bisa terkena tifus. Tapi itulah faktanya. Bahkan, dr. Mugiyo, Sp.A. dari RS PMI, Bogor, telah pula mendapatkan banyak kasus neonatal typhoid alias tifus pada bayi.

Demam tifoid atau tifus adalah penyakit saluran cerna yang disebabkan bakteri Salmonella typhi dan Salmonella typhimurium. Bakteri ini hidup di sanitasi yang rendah seperti lingkungan kumuh. Pada bayi, penyakit ini didapat melalui dua cara penularan, yaitu:

1. Lewat ibu

Penularan bisa terjadi sejak bayi masih dalam kandungan yang dibawa hingga persalinan, dan lewat air susu ibu. Kasus ini didasarkan pada penderita beberapa bayi yang sudah menderita tifus dengan gejala kejang-kejang pada saat beberapa jam atau hari sesudah lahir. Padahal, mereka belum minum ASI atau belum mengonsumsi apa pun. Setelah mengambil sampel dari cairan lumbal ternyata ada kuman tifoid dan kuman ini dibawa dari ibunya sejak si bayi masih di kandungan. Memang kuman tifus itu sifatnya sangat penetratif, bisa menembus dinding-dinding barier.

Sementara, penularan lewat ASI ditemukan pada bayi-bayi yang menyusu secara eksklusif dan berulangkali terserang demam serta diare. Ini, kan, juga sesuatu yang perlu dicurigai karena ASI sebenarnya makanan yang paling higienis untuk bayi. Tapi kenapa bayinya selalu terserang penyakit infeksi, seperti demam dan diare. Setelah diperiksa pencernaanya enggak apa-apa. Setelah diberi antibiotik, sembuh, tapi nanti terserang lagi. Barulah setelah diteliti lebih lanjut melalui serangkaian tes, di antaranya tes darah, ternyata bayi-bayi itu menderita tifus yang ditularkan lewat ASI.

2. Lewat makanan tambahan .

Umumnya terjadi bila makanan yang dikonsumsi bayi kurang diperhatikan kebersihannya. Entah saat pengolahan, penyajian, dan pemberian. Akibatnya, bayi terinfeksi kuman yang menjadi penyebab tifus.

GEJALA SUKAR DIDETEKSI .

Sayangnya, gejala tifus pada bayi sukar dideteksi. Tak seperti pada anak balita yang sudah bisa mengeluh mual, pusing, atau suhu tubuhnya tinggi. Sementara bayi hanya bisa menangis atau rewel. Kadang disertai demam dan diare sehingga umumnya dokter akan mengira bayi terkena penyakit infeksi saluran pencernaan. Padahal bisa saja dia sebenarnya sudah terserang tifus. Kalaupun diberikan obat antibiotik, hanya menghentikan diare atau demamnya saja. Bisa-bisa nanti tifusnya muncul lagi.

Karena itulah, tifus tak boleh dianggap enteng atau harus diobati secara total. Bakterinya sangat cepat berkembang biak dan menjalar ke mana-mana melalui pembuluh darah. Bisa menyerang paru-paru, hati, hingga otak. Tifus yang sudah tergolong berat akan sulit diobati karena sudah telanjur terjadi komplikasi. Jika bakterinya sudah menyerang paru-paru, penderita akan sulit bernapas. Lebih parah lagi jika bakteri sudah masuk ke otak, bayi bisa kejang-kejang karena radang otak.

BISA DIOBATI .

Untungnya, metode pengobatan yang semakin maju sudah bisa menyembuhkan tifus pada bayi. Jika tifusnya ringan (istilahnya gejala tifus atau paratifus), dokter akan menyarankan banyak istirahat, banyak minum, dan obat antibiotik yang diberikan harus dihabiskan. Jika dosis obat ditetapkan 4 kali sehari, maka harus ditaati. Kalau cuma diminum 3 kali sehari, kuman tak akan bersih terbasmi. Pengobatan yang tak tuntas membuat bakteri akan terus terbawa dan berkembang biak. Akibatnya, tingkat kemungkinannya untuk kambuh lagi sangat tinggi.

Tentunya, si bayi harus dirawat baik-baik karena perawatan dan pengobatan bisa menghentikan invasi kuman, memperpendek perjalanan penyakit, mencegah terjadinya komplikasi, serta mencegah agar tak kambuh kembali. Ingat, meski masih tahap ringan, kuman terus menyebar dan berkembang-biak dengan cepat.

Selain itu, sumber tifus pada bayi juga perlu diteliti. Bila penyebabnya ASI, tentu ibunya harus ‘dibersihkan’ juga dari tifus. Bila tidak, tifus ini bakal kambuh terus. Kalau yang masuk lewat ASI hanya berupa partikel dari tifus, maka yang akan muncul gejala mencret-mencret. Tapi kalau yang menular ke bayi adalah kuman, akibatnya yaitu infeksi yang berisiko menjalar ke otak.

Jadi, selama ibu sebagai sumber penularan tak disembuhkan tuntas, si bayi akan tetap mengalami gangguan. Namun begitu, Mugiyo mengingatkan, ASI jangan sampai dihentikan. Sambil ibu dan bayi diobati, ASI jalan terus karena inilah makanan utama untuk bayi.

PENCEGAHAN TIFUS PADA BAYI

1. Ibu

Pada minggu-minggu terakhir sebelum persalinan, pastikan ibu dalam kondisi bebas virus dan kuman agar tak menulari bayinya sewaktu persalinan kelak.

  • Jaga kebersihan dan makanan ibu selama menyusui. Pastikan makanan dan minuman yang dikonsumsi selalu terjamin kebersihannya.
  • Periksa kesehatan ibu apabila bayi yang disusui sering diare atau demam.

2. Bayi .

  • Untuk bayi yang mulai mengonsumsi makanan tambahan, pastikan kebersihan makanannya terjamin.
  • Biasakan bayi selalu dalam keadaan bersih. Sehabis kencing atau buang air besar, bersihkan dengan tuntas.
  • Lakukan imunisasi wajib sesuai jadwal.

3. Lingkungan.

  • Sediakan air minum yang memenuhi syarat. Pastikan air diambil dari tempat yang higienis seperti sumur dan produk minuman yang terjamin. Jangan gunakan air yang sudah tercemar. Jangan lupa, masak air terlebih dulu hingga mendidih (1000C).
  • Pembuangan kotoran manusia harus pada tempatnya. Jangan pernah membuang kotoran bayi secara sembarangan sehingga mengundang lalat karena lalat akan membawa bakteri Salmonella typhi, terutama ke makanan.
  • Bila di rumah banyak lalat, basmi hingga tuntas.
  • Lakukan vaksinasi terhadap seluruh keluarga (orang tua dan anak yang lebih besar). Vaksinasi dapat mencegah kuman masuk dan berkembang biak. Saat ini pencegahan terhadap kuman Salmonella sudah bisa dilakukan dengan vaksinasi bernama chotipa (cholera-tifoid-paratifoid) atau tipa (tifoid-paratifoid). Anak usia 2 tahun yang juga rentan terhadap tifus, lakukan vaksinasi.

Bila ada anggota keluarga yang mengidap kuman (carrier), pengawasan diperlukan agar dia tidak lengah terhadap kuman yang dibawanya. Kalau dia lengah, sewaktu-waktu penyakitnya bisa kambuh.

TIFUS, SEPINTAS KILAS .

Menurut penelitian di Bagian Anak FKUI tentang bayi yang kejang waktu baru lahir, 80 persen penyebabnya adalah tifus. Penyakit ini juga ikut menyumbang angka kematian bayi yang sangat tinggi di  Indonesia dimana 90 persennya akibat penyakit infeksi.

Penyakit tifus umumnya berawal dari konsumsi makanan ataupun minuman yang tercemar oleh bakteri Salmonella typhi dan Salmonella typhimurium. Keduanya biasa terdapat pada makanan dan minuman yang kurang higienis ataupun dari sumber air yang tidak memenuhi syarat untuk dikonsumsi. Dengan kata lain, bibit penyakit masuk ke dalam tubuh melalui mulut, lalu menyerang tubuh, terutama saluran cerna.

Proses perkembangbiakan bakteri ini cepat, yaitu 24-72 jam setelah masuk ke dalam tubuh. Meski belum menimbulkan gejala, bakteri telah mencapai organ-organ hati, kandung empedu, limpa, sumsum tulang, dan ginjal. Rentang waktu antara masuknya kuman sampai timbulnya gejala penyakit sekitar 7 hari. Gejalanya sendiri baru muncul setelah 3 sampai 60 hari. Pada masa-masa itulah kuman akan menyebar dan berkembang biak. Organ tubuh lalu merangsang sel darah putih mengeluarkan zat interleukin. Zat inilah yang akan merangsang terjadinya gejala demam. Kuman yang masuk ke hati akan masuk kembali dalam peredaran darah dan menyebar ke organ tubuh lainnya.

Gejala yang mungkin timbul adalah mual, muntah, demam tinggi berfluktuasi atau naik-turun, nyeri kepala hebat, dan nyeri perut yang diawali sembelit, kadang diikuti diare bercampur darah. Pengobatan umumnya dilakukan bila pemeriksaan laboratorium memberikan hasil positif. Pemeriksaan laboratorium ini juga diperlukan untuk menentukan jenis antibiotik yang paling tepat.

Namun tidak seluruh bakteri Salmonella typhi dapat menyebabkan demam tifoid. Saat kuman masuk, tubuh berupaya memberantas kuman dengan berbagai cara. Misalnya, asam lambung berupaya menghancurkan bakteri dan gerakan lambung berupaya mengeluarkan bakteri. “Jika berhasil, orang tersebut akan terhindar dari demam tifoid,” ungkap Mugiyo.

SI UPIK LEBIH MUDAH TERKENA TIFUS

Penderita tifus dari kalangan anak, 60 persennya adalah anak perempuan. Penyakit tifus mudah kambuh meski sudah sembuh, bahkan menular karena bakteri penyebabnya betah nongkrong bertahun-tahun di usus penderita.

Di Indonesia, penyakit tifus atau demam tifoid yang dulu sering disebut tifus abdominalis, tergolong penyakit endemis (selalu ada sepanjang tahun). Angka kejadiannya pun termasuk paling tinggi di dunia, antara 358-810 per 100 ribu penduduk setiap tahunnya; sedangkan angka kematiannya berkisar 1-5 persen dari jumlah penderita. Demikian papar Narain H. Punjabi, MD, FAAP dalam simposium Demam Tifoid, Salah Satu Masalah Kesehatan Anak Di Indonesia yang diadakan IDAI Cabang Jakarta beberapa waktu lalu.

Penyakit ini juga bisa menyerang siapa saja; dari bayi, balita, anak usia sekolah, remaja, sampai dewasa. “Tapi pada bayi, umumnya jarang, karena bayi mendapat perlindungan dari ASI berupa zat kekebalan sIgA atau Imunoglobulin A sekretori,” tutur peneliti di US-NAMRU2 Litbangkes RI ini. Mayoritas atau sekitar 80-90 persen penderita adalah anak-anak usia 2-19 tahun. Soalnya, anak belum menyadari pentingnya arti kebersihan perorangan atau higiene dan sanitasi atau kebersihan lingkungan. Selain, anak biasanya hanya menerima makanan (yang dianggap aman) dari orang tuanya dan sistem kekebalan tubuhnya pun belum berkembang sempurna.

Yang menarik, dari seluruh jumlah penderita di kalangan anak, 60 persennya adalah anak perempuan. Sayang, hingga kini belum diketahui pasti penyebabnya mengapa anak perempuan yang lebih banyak terkena tifus.
GEJALA BERAGAM .

Sebenarnya, penyakit demam tifoid sudah lama dikenal. Kata “tifus” berasal dari bahasa Yunani “typhos” yang berarti “kabut”. Pasalnya, ada gangguan kesadaran sebagai salah satu gejala yang sering dijumpai pada penderita. Gangguan kesadaran ini bisa berupa kehilangan orientasi dan persepsi, tak dapat tidur atau sebaliknya rasa kantuk yang hebat hingga ingin tidur terus dan tidak bisa dibangunkan atau baru bisa dibangunkan setelah dicubit keras. Bahkan, ada pula yang mengalami shock dan koma. Itulah mengapa, penyakit ini juga sering dikelirukan dengan penyakit demam lain yang disertai gangguan kesadaran.

Dari hasil pemeriksaan klinis, gejala yang biasanya terpantau adalah demam, kondisi umum menurun, lidah kotor berupa lapisan putih atau kuning yang menempel di permukaan lidah, nyeri bila ditekan pada perut, teraba pembesaran hati dan limpa, denyut jantung berkurang, dan gangguan kesadaran. Sayang, gambaran klinis pada penderita anak sering tidak khas, hingga menyulitkan diagnosis dan menghambat penetapan pengobatan yang tepat. Belum lagi faktor kesulitan memperoleh contoh darah yang cukup untuk pemeriksaan laboratorium. Penyebabnya, lebih karena faktor psikologis anak seperti takut, menangis atau bergerak terus saat diambil darahnya, dan sebagainya, hingga akhirnya tak didapatkan contoh darah dalam jumlah cukup.

Gejala yang ditimbulkan pun sangat beragam dan dapat bervariasi dari ringan sampai berat. Antara lain, semakin lama demam semakin tinggi (rata-rata 40 derajat Celcius), lesu, nafsu makan hilang sama sekali, sakit kepala, sakit perut, kembung, mual, muntah, susah buang air besar tapi lalu mendadak mencret dan mimisan. Komplikasi terberat adalah perdarahan dan perlubangan atau kebocoran usus. Komplikasi lainnya seperti gangguan jantung, paru-paru dan ginjal, serta radang kantong empedu dan hati. Kadang juga menyerang jaringan tulang dan otak.

Sedangkan berat-ringan gejala yang ditimbulkan biasanya tergantung dari kuantitas, jenis dan keganasan bakteri, serta kekebalan tubuh penderita. Semakin banyak bakteri yang masuk dan semakin ganas sifatnya, gejala yang diperlihatkan juga semakin berat dan kompleks.

Adapun bakteri penyebabnya, ungkap Dr Soedjatmiko, SpA, MSi. dari Subbagian Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, ialah Salmonella typhi dan tipe invasif lain yang masuk ke dalam saluran pencernaan melalui mulut. “Sebagian bakteri kemudian menembus lapisan dalam dinding usus halus dan memproduksi racun endotoksin yang beredar ke seluruh tubuh.” Sebagian lagi masuk dan berkembang biak dalam folikel getah bening usus, lalu ikut menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Sedangkan sebagian dari bakteri tadi “bersembunyi” dalam sel-sel tertentu hingga dapat hidup lama di dalam tubuh. Itu sebabnya, meski telah diberikan pengobatan dengan baik, 15 persen penderita demam tifoid dapat kambuh lagi di kemudian hari, terutama saat kondisi tubuh memburuk akibat terforsir kesibukan yang menggunung.
JANGAN ABAIKAN KEBERSIHAN

Kendati alat pencernaan yang diserang pertama kali, namun tifus bukan penyakit saluran pencernaan lokal, melainkan penyakit sepsis atau menjalar melalui darah. Perjalanan penyakit ini, terang Dr. Hudoyo Hupudio, MPH dalam simposium yang sama, terdiri dari beberapa fase. Pertama, fase inkubasi; bisa berlangsung 15 hari dan biasanya asimstomatik atau tak memperlihatkan gejala. Kemudian, fase invasif; ditandai demam mendadak antara 37-40 derajat Celcius. “Demam ini kemudian terkesan naik-turun disertai sakit kepala hebat dan gangguan pencernaan yang biasanya berlangsung selama seminggu.” Demam baru menetap, meski tetap tinggi (40 derajat Celcius), dalam fase berikutnya yang biasanya disertai diare dan berlangsung 14 hari. Demam tinggi dalam waktu cukup lama ini biasanya menyebabkan rambut penderita botak akibat rontok.

Selanjutnya, fase penyembuhan; berlangsung relatif lama, setidaknya membutuhkan rawat inap 10-14 hari dan terapi yang adekuat atau memadai. “Bisa saja penderita dirawat di rumah, asalkan terus dipantau kemungkinan terjadi komplikasi, pemberian antibiotika yang tepat dan cairan yang cukup, serta mengutamakan kebersihan.” Pada anak, dianjurkan untuk rawat-inap. Soalnya, penanganan pada anak relatif lebih sulit dan lama. Antara lain karena antibiotika yang dibolehkan untuk anak lebih terbatas, sementara untuk memastikan antibiotika mana yang bisa digunakan, harus berdasarkan biakan darah yang membutuhkan waktu beberapa hari.

Yang penting diperhatikan, kendati pengobatan telah usai dan penderita sudah merasa sembuh, jangan pernah abaikan kebersihan diri dan lingkungan. Pasalnya, seperti dijelaskan Soedjatmiko, sebagian bakteri salmonella typhi ada yang tetap bercokol hidup dalam sel-sel tertentu, terutama dalam sistem empedu. Bakteri ini kemudian keluar ke usus 12 jari dan bercampur dengan tinja. “Nah, sebagian penderita tifus masih ‘menyimpan’ bakteri ini dalam tinjanya selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun meski mereka tak lagi merasakan keluhan penyakit ini. Mereka inilah yang disebut carrier atau pembawa karena meski tak sakit, mereka potensial menyebarkan penyakit.” Para pembawa ini biasanya orang dewasa atau anak yang berumur kurang dari 5 tahun. Makanya, salah satu cara penularan penyakit ini melalui cemaran berupa sisa-sisa tinja di celana. Cara lain lewat baju, alas tidur, bantal, lap mandi, maupun tisu bekas, sabun dan toilet yang digunakan penderita.
DIBERI VAKSIN

Mengingat faktor kebersihan diri dan lingkungan sangat berperan terhadap pencegahan munculnya penyakit ini, Hupudio menyarankan untuk memberi vaksin pada anak-anak usia sekolah atau dewasa yang kerap makan-minum di warung yang kurang terjaga kebersihannya. Begitu juga anak umur 2 tahun yang mulai bermain di lantai atau bersosialisasi ke tetangga, “sebaiknya divaksin karena mereka termasuk kelompok yang rentan tertular dari pengasuh yang kurang menjaga kebersihan.” Selain, mereka juga belum mampu mengontrol buang air besar di tempat khusus dan belum bisa cebok sendiri dengan benar.

Namun vaksinasi penyakit tifus perlu diperkuat setiap 3 tahun, karena setelah rentang waktu tersebut kekebalannya dapat berkurang. Setelah mendapat vaksin, sebagian besar tak akan tertular, namun sebagian kecil mungkin saja masih bisa tertular terutama jika bakteri yang menyerangnya termasuk jenis ganas dan masuk ke tubuh dalam jumlah banyak. Jikapun terkena, dengan pemberian vaksin, gejala yang muncul biasanya ringan dan kondisi penyakitnya tak begitu membahayakan. Pencegahan dengan vaksin juga menekan frekuensi komplikasi dan kematian, sekaligus biaya perawatan dan pengobatan.

Sementara Soedjatmiko juga menekankan pentingnya pembekalan pengetahuan P3K kepada para guru hingga tahu persis kapan harus mencurigai demam sebagai penyakit dan bagaimana menangani anak yang mengalami demam atau keluhan lain saat sekolah. “Jangan sampai malah gelagapan atau bengong-bengong saja hingga penanganan jadi terlambat atau salah kaprah,” ujarnya.
PENCEGAHAN

Untuk mengurangi kemungkinan penularan penyakit ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:

  • Saat merawat penderita, baik di rumah maupun RS, harus lebih seksama dan ekstra hati-hati kala membersihkan tubuhnya maupun benda-benda perlengkapannya, terutama yang mungkin tercemar tinjanya. Jangan lupa, selalu mencuci bersih-bersih tangan dengan sabun atau cairan antiseptik setelah mencebokinya.
  • Jangan pernah ijinkan anak duduk atau main-main di lantai kamar mandi, karena sisa kotoran yang mungkin tercecer di lantai kamar mandi dapat menularkan penyakit. Meski tak ada penderita, sering-seringlah membersihkan lantai kamar mandi dengan banyak air dan cairan antiseptik; apalagi bila telah digunakan penderita.
  • Ajarkan cara cebok yang baik dan benar pada anak yang sudah agak besar maupun pengasuhnya. Begitu pula cara menyiram WC dan lantai kamar mandi.
  • Selalu cuci tangan dengan sabun setiap kali bersentuhan dengan penderita.

Sementara pencegahan penyakit ini dapat dilakukan, antara lain dengan cara:

  • Saat menyiapkan makanan dan minuman, jangan gunakan tangan secara langsung, tapi pakailah alat bantu semisal sendok, garpu, atau penjepit makanan.
  • Kala hendak sekolah, bekali makanan lengkap dengan sendok-garpu dari rumah yang lebih terjaga kebersihannya ketimbang jajan sembarangan.
  • Hindari atau minimal waspadai warung makanan. Tak ada salahnya untuk memperhatikan kebiasaan cuci tangan juru masak atau pelayannya maupun pencucian alat-alat makan bekas pakai, sebelum memutuskan makan di kedai tersebut.
  • Tanamkan kebiasaan hidup bersih pada anak dan pengasuhnya. Jangan pernah lelah atau menyerah untuk memberi penjelasan, contoh nyata, maupun saat mengawasi pelaksanaannya.
  • Gunakan air yang mengalir dari kran untuk mencuci tangan, bukan dari ember atau bak penampung yang jarang dikuras dan dicuci. Begitu juga untuk mencuci bahan makanan, alat masak maupun perlengkapan makan. Untuk mencuci lalap mentah dan buah segar, sebaiknya gunakan air matang.
  • Bila mungkin, sediakan sabun untuk masing-masing anggota keluarga. Usahakan pula sumber air bersih sebaiknya terpisah minimal 10 meter dari septic-tank.

Biasakan anak untuk tidak jajan sembarangan.!

SELUK-BELUK PENYAKIT TIFUS

Salah besar jika menganggap enteng penyakit ini. Sebab jika kambuh lagi, akan lebih membahayakan.

Penyakit yang ditandai dengan demam tinggi ini kerap menyerang anak-anak. Termasuk balita. Sayangnya, banyak orang tua menganggap remeh tifus. Banyak juga yang masih beranggapan, kalau sudah pernah kena tifus, tak bakalan kena lagi. Padahal, salah besar. Justru lebih bahaya dan bisa menyebabkan kematian.

Di Indonesia, diperkirakan antara 800 – 100.000 orang terkena tifus atau demam tifoid sepanjang tahun. Demam ini terutama muncul di musim kemarau dan konon anak perempuan lebih sering terserang. Yang jelas, meski tifus bisa menyerang anak di atas umur 1 tahun, “korban” paling banyak adalah anak usia 5 tahun. “Tapi belakangan ini, serangan terhadap anak di bawah umur 5 tahun, meningkat jadi 15 persen,” kata dr. Arlin Algerina, SpA, dari RS Internasional Bintaro.

MASUK LEWAT MULUT.

Demam tifoid, jelas Arlin, adalah infeksi akut yang disebabkan bakteri Salmonella typhi. Tidak seperti virus yang dapat beterbangan di udara, bakteri ini hidup di sanitasi yang buruk seperti lingkungan kumuh, makanan, dan minuman yang tidak higienis. “Dia masuk ke dalam tubuh melalui mulut, lalu menyerang tubuh, terutama saluran cerna.”

Proses bekerjanya bakteri ini ke dalam tubuh manusia lumayan cepat. Yaitu 24-72 jam setelah masuk, meski belum menimbulkan gejala, tetapi bakteri telah mencapai organ-organ hati, kandung empedu, limpa, sumsum tulang, dan ginjal. “Rentang waktu antara masuknya kuman sampai dengan timbulnya gejala penyakit, sekitar 7 hari.”

Nah, gejalanya sendiri baru muncul setelah 3 sampai 60 hari. Pada masa-masa itulah kuman akan menyebar dan berkembang biak. Organ tubuh lalu merangsang sel darah putih mengeluarkan zat interleukin. Zat inilah yang akan merangsang terjadinya gejala demam. Kuman yang masuk ke hati akan masuk kembali dalam peredaran darah dan menyebar ke organ tubuh lainnya.

Namun tidak seluruh bakteri Salmonella typhi dapat menyebabkan demam tifoid. “Saat kuman masuk, tubuh berupaya memberantas kuman dengan berbagai cara. Misalnya, asam lambung berupaya menghancurkan bakteri, sementara gerakan lambung berupaya mengeluarkan bakteri. Jika berhasil, orang tersebut akan terhindar dari demam tifoid.”

KENALI GEJALA

Cara terbaik menghadapi demam tifoid adalah mengetahui gejala awal penyakit ini. Antara lain:

  • Demam lebih dari seminggu

Siang hari biasanya terlihat segar namun malamnya demam tinggi. Suhu tubuh naik-

turun.

  • Mencret
    Bakteri Salmonella typhi juga menyerang saluran cerna karena itu saluran cerna terganggu. Tapi pada sejumlah kasus, penderita malah sulit buang air besar.
  • Mual  Berat.

Bakteri Salmonella typhi berkumpul di hati, saluran cerna, juga di kelenjar getah bening. Akibatnya, terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga terjadi rasa mual.

  • Muntah.
    Karena rasamual, otomatis makanan tak bisa masuk secara sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut. Karena itu harus makan makanan yang lunak agar mudah dicerna. Selain itu, makanan pedas dan mengandung soda harus dihindari agar saluran cerna yang sedang luka bisa diistirahatkan.
  • Lidah kotor.

Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya anak akan merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang asam-asam atau pedas.

  • Lemas, pusing, dan sakit perut.

  • Terkesan acuh tak acuh bahkan bengong.

Ini terjadi karena adanya gangguan kesadaran. Jika kondisinya semakin parah, seringkali tak sadarkan diri/pingsan.

  • Tidur pasif.

Penderita merasa lebih nyaman jika berbaring atau tidur. Saat tidur, akan pasif (tak banyak gerak) dengan wajah pucat.

PENGOBATAN HARUS TUNTAS.

Bila demam tifoid masih terbilang ringan, istilahnya gejala tifus atau paratifus, dokter akan menyarankan banyak istirahat, banyak minum, dan obat antibiotik yang diberikan harus dihabiskan.

Perawatan dan pengobatan bertujuan menghentikan invasi kuman, memperpendek perjalanan penyakit, mencegah terjadinya komplikasi, serta mencegah agar tak kambuh kembali. “Sebab, meski masih tahap ringan, kuman terus menyebar dan berkembang-biak dengan cepat,” jelas Arlin.

Sayangnya, diagnosa demam tifoid pada anak-anak cukup sulit dilakukan. “Pada sejumlah anak, mereka tak mengeluh mual, pusing, atau suhu tubuhnya tinggi. Anak hanya bisa menangis atau rewel.” Pemeriksaan laboratorium pun kerap sulit dilakukan karena anak umumnya meronta jika harus diambil darahnya.

Untuk tifus yang sudah berat, penderita diharuskan menjalani perawatan di rumah sakit. Biasanya selama 5-7 hari harus terus berbaring. “Setelah melewati hari-hari itu, proses penyembuhan akan dilanjutkan dengan memobilisasi bertahap.” Hari pertama, dudukkan anak 2 x 15 menit, lalu meningkat 2 x 30 menit di hari kedua, dan seterusnya. Baru kemudian belajar jalan.

BISA KAMBUH LAGI .

Yang jelas, lanjut Arlin, demam tifoid tak boleh dianggap enteng. “Harus diobati secara total.” Karena itu, jika dosis obat ditetapkan 4 kali sehari, harus ditaati. “Kalau cuma diminum 3 kali sehari, kuman tak akan mati.” Pengobatan yang tak tuntas, membuat bakteri akan terus terbawa dan berkembang biak. “Tingkat kemungkinan kambuh lagi, sampai 15 persen.”

Arlin kembali mengingatkan, betapa cepatnya bakteri ini berkembang biak dan menjalar ke mana-mana melalui pembuluh darah. “Bisa menyerang paru-paru, hati, hingga otak.”

Padahal, jika demam tifoid sudah tergolong berat, akan sulit diobati karena sudah terlanjur terjadi komplikasi. Misalnya, bakteri sudah membuat usus bocor (perforasi) sehingga timbul pendarahan ketika buang air besar. Usus pun sudah sulit sekali mencerna makanan karena selaputnya sudah terinfeksi (peritonitis).”Tak ada jalan lain, kecuali operasi untuk memperbaiki ususnya yang bolong.”

Serangan lainnya adalah ke paru-paru yang membuat penderita sulit bernapas. Yang lebih parah, jika bakteri sudah masuk ke otak. “Anak akan kejang-kejang, tak sadarkan diri, bahkan koma beberapa saat.”

Pencegah Demam Tifoid

Menurut Arlin, pencegahan harus dilakukan dari 2 hal:
LINGKUNGAN HIDUP.
1.   Sediakan air minum yang memenuhi syarat. Misalnya, diambil dari tempat yang

higienis, seperti sumur dan produk minuman yang terjamin. Jangan gunakan air yang sudah tercemar. Jangan lupa, masak air terlebih dulu hingga mendidih (100 derajat C).

  1. Pembuangan kotoran manusia harus pada tempatnya. Juga jangan pernah  membuangnya secara sembarangan sehingga mengundang lalat karena lalat akan  membawa bakteri Salmonella typhi. Terutama ke makanan.
  1. Bila di rumah banyak lalat, basmi hingga tuntas.

DIRI SENDIRI.
1. Lakukan vaksinasi terhadap seluruh keluarga. Vaksinasi dapat mencegah kuman masuk dan berkembang biak. Saat ini pencegahan terhadap kuman Salmonella sudah bisa dilakukan dengan vaksinasi bernama chotipa (cholera-tifoid-paratifoid) atau tipa (tifoid-paratifoid). Untuk anak usia 2 tahun yang masih rentan, bisa juga divaksinasi.

2. Menemukan dan mengawasi pengidap kuman (carrier). Pengawasan diperlukan agar dia tidak lengah terhadap kuman yang dibawanya. Sebab jika dia lengah, sewaktu-waktu penyakitnya akan kambuh.

Kebal Antibiotik

Yang “mengerikan”, papar Arlin, penelitian menunjukkan, kini banyak kuman Salmonella typhi yang kebal terhadap antibiotika. Akhirnya, penyakit ini makin sulit disembuhkan. “Tapi untungnya metode pengobatan juga sudah maju sehingga separah apa pun, bisa disembuhkan.”

Hanya saja, jika bakteri sudah menyerang otak, tetap akan membawa dampak. Misalnya, kesadarannya berkurang, kurang cepat tanggap, dan lambat dalam mengingat. Jadi, jangan sepelekan demam tifoid dan rawat anak baik-baik jika ia terserang penyakit ini.

Makanan Yang Dianjurkan.

  • Boleh semua jenis makanan, yang penting lunak.
  • Makanan harus mudah dicerna, mengandung cukup cairan, kalori, serat, tinggi protein dan vitamin, tidak merangsang dan tidak menimbulkan banyak gas.
  • Makanan saring/lunak diberikan selama istirahat.
  • Jika kembali kontrol ke dokter dan disarankan makan nasi yang lebih keras, harus dijalankan.
  • Untuk kembali ke makanan “normal”, lakukan secara bertahap bersamaan dengan mobilisasi. Misalnya hari pertama makanan lunak, hari ke-2 makanan lunak, hari ke-3 makanan biasa, dan seterusnya

TIFUS SCRUB

1. Identifikasi

Penyakit yang disebabkan oleh rickettsia yang ditandai dengan munculnya ulcus primer pada kulit dengan bentuk “punched out” pada bagian kulit yang digigit oleh larva ngengat yang terinfeksi. Beberapa hari kemudian muncul demam, sakit kepala, keringat berlebihan, injeksi konjungtiva, limfadenopati.

Seminggu setelah demam berlangsung muncul erupsi pada kulit yang berbentuk

Makulopapuler berwarna merah gelap pada bagian tubuh, menyebar ke tungkai dan menghilang dalam beberapa hari. Sering disertai dengan batuk dan pada pemeriksaan radiologis pada paru ditemukan pneumonitis. Tanpa dilakukan pengobatan dengan antibiotika yang tepat demam hilang pada hari ke 14.

CFR penderita yang tidak mendapat pengobatan berkisar antara 1 – 60%, tergantung dimana orang itu terkena, jenis rickettsia yang menginfeksi dan tergantung pula pada riwayat orang tersebut terhadap infeksi sebelumnya. Namun CFR selalu lebih tinggi pada usia yang lebih tua.

2. Penyebab penyakit:

Orientia tsutsugamushi yang secara serologis ditemukan ada banyak strain yang berbeda.

3. Distribusi penyakit

Penyakit ini tersebar di Asia bagian Tengah, Timur dan Tenggara. Kemudian ditemukan tersebar mulai dari Siberia tenggara, Jepang bagian utara sampai pada kewilayah bagian utara Australia dan Vanuatu, palestina bagin barat, lereng Himalaya sampai ketinggian 10.000 kaki dan banyak ditemukan terutama di Thailand bagian utara. Biasanya manusia mendapatkan infeksi dari tempat yang ukurannya relatif sangat kecil bahkan dalam ukuran meter persegi dimana ditempat tersebut rickettsia, vektor dan rodentia hidup berkoeksistensi dengan baik. Tempat yang terbatas tersebut dinamakan “typhus islands”. Distribusi penyakit menurut jender sangat dipengaruhi oleh jenis pekerjaan. Orang dewasa yang bekerja pada daerah endemis tifus scrub dan didaerah yang densitas populasi ngengatnya tinggi kemungkinan tertular sangat besar. Misalnya mereka yang bekerja pada pembukaan lahn dihutan, daerah padang pasir yang diirigasi. KLB tifus dapat terjadi apabila mereka yang rentan masuk kedaerah endemis, terutama pada waktu dilakukan operasi militer, 20 – 50% dari mereka akan terinfeksi dalam beberpa minggu atau dalam beberapa bulan.

4. Reservoir:

Yang menjadi reservoir adalah stadium larva dari ngengat jenis Leptotrombidium abamushi, L. Deliensis dan species jenis lain tergantung wilayahnya. Species tersebut yang paling umum diketahui sebagai vektor trhadap manusia. Siklus penularan pada ngengat berlangsung melalui rute transovarian.

5. Cara penularan:

Melalui gigitan larva dari ngengat yang terinfeksi stadium nimfe dan ngengat dewasa tidak hidup dari hospes vertebrata.

6. Masa Inkubasi:

Masa inkubasi bisanya berlangsung 10 – 12 hari; bervariasi antara 6 – 21 hari.

7. Masa penularan:

Tifus scrub tidak ditularkan dari orang ke orang

8. Kerentanan dan kekebalan:

Semua orang rentan terhadap penyakit ini, seseorang yang terserang penyakit ini akan kebal dalam waktu yang cukup panjang terhadap strain homolog dari O. tsutsugamushi dan hanya menimbulkan kekebalan sementara terhadap strain heterolog. Infeksi oleh strain heterolog dalam beberapa bulan akan menimbulkan penyakit yang ringan, namun setahun kemudian akan muncul penyakit yang khas. Serangan kedua dan ketiga terhadap mereka yang tingal di daerah endemis dapat terjadi secara alamiah pada orang-orang yang tinggal di daerah endemis, biasanya penyakit yang ditimbulkan sangat ringan bahkan tanpa gejala. Atau serangan kedua dan ketiga dapat terjadi pada mereka yang pernag terinfeksi namun tidak mendapatkan pengobatan dengan sempurna. Pada berbagai percobaan yang dilakukan belum ditemukan jenis vaksin yang efektif.

9. Cara-cara pemberantasan :

A. Upaya pencegahan

1). Hindari kontak dengan ngengat yang terinfeksi dengan upaya profilaktis yaitu dengan

mengenakan pakaian dan selimut yang telah diberi mitisida (permethrin dan benzyl

benzoate ), memakai repelan ( diethyltoluamide, Deet® ) pada kulit yang tidak tertutup

pakaian.

2). Basmilah ngengat dari tempat-tempat tertentu dengan cara menaburkan bahan kimia

Dengan komposisi hidrokarbon klorida seperti lindane, dieldrin atau chlordane ditanah serta vegetasi disekitar tenda perkemahan, bangunan dipertambangan dan disekitar dearah yang dihuni banyak orang didaerah endemis.

3). Pemberian doxycycline selama 7 minggu dengan dosis tunggal sebanyak 200

Mg / minggu yang diberikan kepada sekelompok sukarelawan di Malaysia terbukti cukup efektif untuk mencegah terjadinya infeksi tifus scrub.

B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya

1). Laporan kepada institusi kesehatan setempat; Didaerah endemis, tifus scrub dapat

dibedakan dengan tifus murin dan tifus yang ditularkan oleh tuma (louseborne typhus). Dikebanyakan negara penyakit ini bukan sebagai penyakit yang wajib dilaporkan, kelas 3A (lihat tentang  pelaporan penyakit menular).

2). Isolasi: Tidak dilakukan

3). Disinfeksi serentak: Tidak dilakukan

4). Karantina: Tidak dilakukan

5). Imunisasi tehadap kontak: Tidak dilakukan

6). Investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi: Tidak dilakukan ( lihat pada 9C

Dibawah )

7). Pengobatan spesifik: Tetrasiklin dosis tunggal (loading dose), diikuti dengan dosis

Terbagi setiap hari sampai dengan penderita tidak demam lagi (rata-rata selama 30 jam). Kloramfenikol juga cukup efektif dan hanya diberikan jika ada indikasi kontra pemberian tetrasiklin (lihat seksi I, 9B7 diatas). Jika pengobatan baru dimulai 3 hari setelah sakit maka kemungkinan kambuh kembali besar sekali kecuali jika diberikan segera dosis kedua dengan interval 6 hari. Di Malaysia pemberian doxycycline dosis tunggal (5 mg/kg/BB) cukup efektif jika diberikan pada hari ke tujuh, sedngkan di Pulau Pescadores (Taiwan) diberikan pada hari ke lima. Jika dosis kedua ini diberikn lebih awal dari lima hari diperkirakan dapat terjadi relaps. Azithromycin berhasil baik digunakan pada penderita yang sedang hamil.

C. Upaya penanggulangan wabah Dalam upaya mengatasi wabah, terapkan secara ketat apa

Yang diuraikan pada seksi 9A1 – 9A2 diatas di daerah terjangkit. Lakukan pengamatan yang ketat terhadap setiap penduduk dengan risiko tinggi, cari mereka yang demam dan yang dengan lesi primer; lakukan pengobatan segera begitu ditemukan ada yang sakit.

D. Implikasi bencana: Penularan dapat terjadi apabila para pengungsi ditempatkan didaerah

endemis pada situs “typhus islands” atau didekatnya.

E. Tindakan Internasional: Manfaatkan Pusat-pusat Kerja sama WHO

Angin Pun Menyebarkan Tifus

SELEMBAR kertas hasil periksa laboratorium masih dipegang Sahnaz. Wajah ibu 26 tahun ini terlihat begitu cemas. “Bener, Yah. Salsa kena tifus. Aku sampe gemetar waktu hasilnya dianalisa dokter,” ungkap Sahnaz kepada Gagan (30) suaminya.

MALAM hari sebelum dibawa berobat ke dokter spesialis anak di sebuah rumah sakit, kondisi Salsa tampak mengenaskan. Bocah tiga tahun ini mengalami demam tinggi. Seluruh tubuh panas hingga lebih 37 derajat selsius.

Tapi di bawah selimut, Salsa justru merasa dingin, bahkan sampai menggigil. Padahal Sahnaz sudah memakaikan sweater, penutup kepala, selimut, dan memeluknya. Sebelumya, Gagan bahkan sempat mengompres dahi dengan air biasa sambil sesekali memulasi perut Salsa yang terasa sakit dengan minyak kayu putih. “Anehnya kemarin siang Salsa begitu ceria. Main kejar-kejaran di halaman. Sama sekali nggak kelihatan dia sakit. Setelah periksa urine dan darah di laboratorium, baru ketahuan dia positif tifus,” sesal Sahnaz.

Di musim kemarau seperti saat ini, bakteri Salmonella typhi penyebab sakit tifus memang mudah menyebar. Terutama di genangan air kotor, makanan tercemar, alas tidur dan lingkungan sekitar rumah yang jarang dibersihkan.

Sebagian orang menganggap tifus berasal dari kotoran dan air kencing tikus. Padahal dalam rantai penyebaran tifus, tikus hanyalah hewan pembawa bakteri Salmonella typhi. Sama halnya dengan lalat dan kecoa yang sering hinggap di tempat kotor. Bahkan debu yang tertiup angin bisa menjadi media penyebar bakteri Salmonella typhi.

Biasanya, tikus yang disebut-sebut penyebab tifus tadi sudah terinfeksi bakteri Salmonella typhi. Kemudian mencemari lingkungan saat mengeluarkan sebagian bakteri itu melalui kotoran dan air kencing. Kotoran dan air kencing penderita tifus juga perlu diwaspadai karena berpotensi menyebarkan bakteri Salmonella typhi.

Salmonella thyposa masuk ke tubuh melalui makanan dan minuman, lalu berkembang biak di usus halus yang merupakan bagian dari sistem pencernaan. Karena tidak dinetralkan oleh asam lambung, kuman yang berhasil berkembang biak mengakibatkan proses inflamasi (peradangan) lokal.

Bila kondisi penderita tifus cukup parah, mereka perlu dirawat di rumah sakit. Biasanya para dokter memberi obat antibiotik untuk mengatasi penyakit tifus. Penyembuhan bisa makan waktu dua minggu hingga sebulan. (ricky reynald yulman)

Oke, rasa-rasanya emang lebih baik mencegah daripada mengobati. Please deh!

KANTUNG EMPEDU – BATU GINJAL
Indikasi awal kanker & tumor biasanya diawali dengan penuhnya kantung empedu

dengan batu. Semua orang cenderung empedunya berisi batu, tetapi pada kondisi tertentu akan jadi penyakit, Artikel paling bawah ini telah memberi saya jalan keluar, dimana 4 dokter memastikan saya harus dioperasi. Karena beberapa minggu lalu, saya terkena hepatitis A dan hasil USG ternyata empedu saya penuh dengan batu. Penuhnya Empedu dengan batu tdk akan kita ketahui dlm keadaan normal, saya baru tahu setelah dokter melakukan USG Hati dan empedu. Menurut Dokter: Operasi kantung empedu dgn mengangkat kantung empedu dengan operasi besar ataupun laparaskopi. Biaya yang akan kita keluarkan untuk operasi tsb berkisar antara 40-60 juta. (Untuk operasi saja) Silahkan baca original artikel paling bawah dari Dr Lai Chiu-Nan, bagaimana mengeluarkan batu empedu tanpa operasi dan biaya sangat murah dan tidak merusak tubuh kita. Subhanallah saya telah mengikuti saran beliau dan alhamdulillah batu empedu ku keluar semua tanpa operasi. (Ini bukan detoxinasi, tapi seperti pembersihan perut). Hasil USG saya empedu telah penuh dengan batu, setelah melakukan treatment ini saya meminta USG kembali sebagai bukti. Ternyata benar…kantung empedu saya kosong… Entah bagaimana saya menyampaikan ucapan terimakasih ke Dr Lai Chiu-Nan, tapi saya cuma ingin sharing pengalaman sesuai niat Dr Lai Chiu-Nan membagi pengalaman kepada saudara2 kita dengan gratis.

Saran:

Bagi yang sehat…cobalah, karena saat kita sakit akut ataupun kronis gak enak rasanya. Ini adalah salah satu cara menghindari kanker dan tumor Fungsi hati dan empedu: Menetralisir racun di tubuh, Empedu menetralisir lemak yang kita asup ke dalam tubuh. Keduanya saling berkaitan… kalau kedua2nya bersih …berarti kita telah menyehatkan tubuh kita agar normal fungsi keduanya.

Sehat adalah milik kita semua..
Baik sekali apabila kita sekali-kali membersihkan kandung empedu kita.
============ ========= ========= ========= ===

MENGHILANGKAN BATU EMPEDU SECARA ALAMIAH
Ini telah berhasil bagi banyak orang. Apabila kejadian anda demikian juga, ayolah beritahu pada orang lain. Dr Chiu-Nan sendiri tak memungut biaya untuk informasinya ini, karena itu sebaiknya kita buat ini gratis juga.

Ganjarannya adalah bila ada orang yang karena informasi yang anda berikan menjadi sehat. Batu empedu tak banyak dirisaukan orang, tapi sebenarnya semua perlu tahu karena kita hampir pasti mengindapnya. Apalagi karena batu empedu bisa berakhir dengan penyakit kanker. “Kanker sendiri tidak pernah muncul sebagai penyakit pertama” kata Dr Chiu-Nan.

“Umumnya ada penyakit lain yang mendahuluinya. Dalam penelitian di Tiongkok saya menemukan bacaan bahwa orang-orang yang terkena kanker biasanya ada banyak batu dalam tubuhnya. Dalam kantung empedu hampir semua dari kita mengandung batu empedu.
Perbedaannya hanya dalam ukuran dan jumlah saja.. Gejala adanya batu empedu biasanya adalah perasaan penuh di perut ( ‘ nek, busung) sehabis makan. Rasanya kurang tuntas mencernakan makanan. Dalam kondisi parah ada tambahan rasa nyeri pada ginjal.”

Bila anda menduga ada batu pada empedu anda, cobalah cara yang dianjurkan oleh Dr Chiu Nan untuk menghilangkannya secara alamiah. Pengobatan ini juga dapat dipakai bila ada keluhan gangguan hati, karena hati dan kandung empedu saling berkaitan.

Tata-cara pengobatannya adalah sebagai berikut:

1.    Selama lima hari berturut-turut minumlah empat (4) gelas sari buah apel segar setiap

hari, atau makanlah empat atau lima buah apel segar, tergantung selera anda. Apel  berkhasiat melembutkan batu empedu. Selama masa ini anda boleh makan seperti  biasa.

  1. Pada hari ke-enam jangan makan malam. Jam 6 petang, telanlah satu sendok the

” Epsom salt ” (magnesium sulfat, garam Inggris??) dengan segelas air hangat. Jam 8 malam lakukan hal yang sama. Magnesium sulfat berkhasiat membuka pembuluh-pembuluh kandung empedu. Jam 10 malam campurkan setengah cangkir minyak zaitun (atau minyak wijen) dengan setengah cangkir sari jeruk segar. Aduklah secukupnya sebelum diminum. Minyaknya melumasi batu2 untuk melancarkan keluarnya batu empedu.

Keesokan hari Anda akan menemukan batu-batu berwarna kehijauan dalam limbah air besar anda. “Batu-batu ini biasanya mengambang,” menurut Dr Chiu-Nan. “Cobalah hitung jumlahnya. Ada yang jumlahnya 40, 50 sampai 100 batu. Banyak sekali. Tanpa gejala apapun Anda mungkin memiliki ratusan batu yang berhasil dikeluarkan melalui metoda ini, walaupun mungkin tidak semuanya keluar.

Baik sekali apabila kita sekali-kali membersihkan kandung empedu kita :

1.    Jenis Apel sebenarnya sama, cuma saya seneng yang manis……..Kemaren aku

makan Apel RRC yang sering diskon kalau di supermarket harga diskon per 100 gram 800-1000 ( biasaya 1600 )

2.    Minum / makan apel selama 1 hari 4 (rata2) lima juga boleh.

3.    Sebelumnya aku minum Jus asli apel. Cuma butuh waktu untuk mebuatnya.

Akhirnya selama 5 hari aku makan apel seger dari kulkas, kulitnya aku buang. Karena apel sekarang banyak yang dikasih lapisan lilin dan terkontaminasi sama pestisida… jadi aku buang kulitya, lalu aku potong kecil..dan dimasukkan ke kulkas…jadi saat kita mau makan, apelnya masih seger dan dingin.

4.    Garam Inggris beli di apotik harga Rp2.500 (Tempat obat)

5.    Minyak Zaitun kalau kita ke Supermarket namanya Olive Oil, harga 25-30 ribu satu

botol.

Guna Jeruk agar kita tidak muntah saat minum Minyak Zaitun, Jadi aduk yang rata…karena sebelumnya adukanku tidak rata…sehingga eneg, ..lalu aduk lagi biar tercampur dengan rata..karena minyak dan jeruk tidak bersatu atau Berat Jenisnya beda…

Pokoknya Subhanallah. .. 3 Dokter suruh aku Operasi… dengan treatment ini, keluar batunya.


“Orang yang hanya memikirkan diri sendiri, akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Tetapi orang yang mau memikirkan orang lain, ia akan menjadi orang besar dan mati sebagai orang besar”. (Sayyid Qutb)

Penyakit Kanker Sudah Tidak Berbahaya Lagi

Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat memiliki

harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman “KELADI TIKUS” (Typhonium Flagelliforme / Rodent Tuber ) sebagai tanaman obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai penyakit berat lain.

Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 cm ini hanya tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung. ” Tanaman ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa,” kata Drs.Patoppoi Pasau, orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia ..
Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr Chris K.H.Teo, Dip

Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang, Malaysia. Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan pasien dari Malaysia , Amerika, Inggris , Australia , Selandia Baru, Singapura, dan berbagai negara di dunia.
Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan, Jawa

Tengah.  Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel, Red) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut. ” Sebelum menjalani kemoterapi,dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig ( rambut palsu ) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontokan rambut, selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan,” jelas Patoppoi.
Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha mencari

pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati kanker. ” Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli teh tersebut, ” ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuah toko obat di Malaysia , secara tidak sengaja dia melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996.

” Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke Indonesia ,” kenang Patoppoi sambil tersenyum. Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu.

Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat Departemen Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman tersebut. Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, familinya di Pekalongan Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, mereka menemukan tanaman itu di sana . Setelah mendapatkan tanaman tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu.

Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa tanaman

tersebut memang benar Rodent Tuber. ” Dr Teo mengatakan agar tidak ragu lagi untuk enggunakannya sebagai obat, ” lanjut Patoppoi. Akhirnya, dengan tekad bulat dan do’a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai memproses tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku tersebut untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi putranya, Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan tanaman tersebut. ” Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut tumbuh liar di pinggir sungai,”  kata Boni yang mendampingi ayahnya saat itu.
Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami penurunan  efek

samping kemoterapi yang dijalaninya.. Rambutnya berhenti rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. ” Bahkan nafsu makan ibu saya pun kembali normal, ” lanjut Boni.
Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani pemeriksaan

kankernya. Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta , ” kata Patoppoi. Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan pada isterinya. ” Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan dosis kemoterapi kepada kami, ”  lanjut Patoppoi.
Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun  mendukung

Pengobatan tersebut dan menyarankan agar mengembangkannya. Apalagi melihat keadaan isterinya yang tidak mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras tersebut. Dan pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur menjadi enam bulan sekali.”Tetapi karena sesuatu hal, para dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan penggunaan tanaman sebagai pengobatan alternatif,” sambung Boni sambil tertawa.
Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan isterinya,

pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr.Teo melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut banyak terdapat di Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di Indonesia. Kemudian Dr.Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh,” sambung Patoppoi. Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan agar kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha nyata membantu penderita kanker di Indonesia.

Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai meninggalnya Wing Wiryanto , salah satu wartawan handal Jawa Pos, Patoppoi sempat tercengang. Data-data rinci mengenai gejala, penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil menyembuhkan pasien tersebut.

” Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos, ” ujar Boni. Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari, bisa sekitar 30 telepon yang masuk. ” Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 orang yang datang ke sini, ” lanjut Boni yang beralamat di Jl. KH. Khamdani, Buduran Sidoarjo.
Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim stadium dini.

Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi. Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku dijual untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos. Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi, karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif.

Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi berusaha untuk

menemui Dr. Teo secara langsung. Atas bantuan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno, Patoppoi dapat menemui Dr. Teo di Penang , Malaysia . Di kantor Pusat Cancer Care Penang, Malaysia , Patoppoi mendapat penerangan lebih lanjut mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki nama Indonesia ..

Ternyata saat Patoppoi mendapat buku “Cancer, Yet They Live” edisi revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku tersebut, serta pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan kanker. Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi mendirikan perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya . Maka secara resmi, Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial Cancer Care Indonesia , yang juga disebutkan dalam buletin bulanan Cancer Care, yaitu di Jl. Kayu Putih 4 No. 5, Jakarta , telp. 021-4894745, dan di Buduran, Sidoarjo.
Cancer Care Malaysia telah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut secara  lebih

canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus dalam bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai tananaman lainnya dengan dosis tertentu. ” Dosis yang diperlukan tergantung penyakit yang diderita, ” kata Boni.
Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus mengisi formulir yang  menanyakan

keadaan dan gejala penderita dan akan dikirimkan melalui fax ke Dr. Teo. ” Formulir tersebut dapat diisi disini, dan akan kami fax-kan. Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan resep sekaligus obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia , sekitar 40-60 Ringgit Malaysia ,” lanjut Boni. ” Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, kami tidak menarik keuntungan, malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo bisa memberikan perpanjangan waktu pembayaran. ” tambahnya.
Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salah satu dokter

senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker ginjal. Adadua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di Surabaya ini.

Pasien pertama yang mengidap kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan dengan keladi tikus, karena telah ditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah memiliki reputasi. Setelah menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami kerontokan rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah. Tetapi pada pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini menanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi tikus untuk membantu proses penyembuhan kemoterapi.
Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek yang dialami penderita pertama,

bahkan pasien tersebut kelihatan normal. Tetapi dokter ini menolak untuk diekspos karena
menurutnya, pengobatan ini belum resmi diteliti di Indonesia … Menurutnya, jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai “ter-kun” atau dokter-dukun. “Disinilah gap yang terbuka antara pengobatan konvensional dan modern,” kata dokter tersebut.
Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikan bantuan

kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat putaw dan sabu-sabu di Surabaya , yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapat kanker paru-paru. Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III, pasien tersebut mengkonsumsi pil dan teh dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari peredaran darah penderita dan mengatasi ketergantungan pada narkoba tersebut. “Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi tikus, dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi,” sambung Boni sambil tertawa.

Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat serangan kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidak mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa saat kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan.
Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah disembuhkan

adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker payudara, paru-paru, usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal, leher rahim, tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan hepatitis.
Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan milyaran Ringgit Malaysia

selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi dunia kesehatan.
Bagi teman-teman yang memerlukan informasi lebih lanjut sehubungan dengan artikel

” Obat Kanker ”  bisa menghubungi perwakilan lembaga sosial :

” Cancer Care Indonesia “

Jl. Kayu Putih 4 no.5 Jakarta ,

telp : 021-4894745,



Responses

  1. Sangat membantu dalam memberikan pengetahuan tentang penyakit tifus yg masih awam tentang penyakit tersebut. Alangkah bagusnya ditambah dengan stadium-stadium dari penyakit tersebut. Bagus..bagus

  2. trimakasih infonya……lengkap bgt….

  3. mengatasi sembelitnx abz smbuh tifuz gmn?

  4. juga bisa buat rambut kita rontok parah

  5. kenapa ya penyakit tifus aq sering kambuh walaupun 1 bln atau sampai 3 bulan kambuh lagi,

  6. saat ini aq mengalami gejala tifus memang sebelunya aq sdah perna sakit tifus, terus yg jadi pertanyaan saya, apakah cuma anak2 yg sering menderita tifus….?

  7. tipus, saya pernah jadi korbannya. hingga infus habis 21 botol dirawat dirumah sakit 9 hari. untungnya yang menangini saya dokter yang serius menginginkan saya sembuh dan kedua orang tua saya yang mendampingi saya tatkala terbaring tak berdaya di rs.

  8. terima kasih atas infonya
    artikel yang bagus

  9. Terimakasih atas infonya. Saya mau tanya. Apakah rontok dapat disebabkan oleh tifus walaupun tidak sedang mengalami tifus tetapi pernah terkena tifus? Karena setelah saya terkena tifus 2-3bulannya rambut saya rntokk banyak sekali, setiap hari saya menyisir selalu rontok sejumput, padahal dulu rambut saya tebal sekali, namun lama kelamaan rambut saya sangat tipis sekali. padahal saya sudah menggunakan lidah buaya dan pengobatan rambut agar tidak rontok, tetapi tetap saja, saya mohon bantuannya. Jika memang karena tifus, apa yang harus saya perbuat dengan rambut saya? Saya takut mengalami kebotakan.

  10. Kalo abis tifus memang suka pegal2 dan linu ya,, badan saya sakit swmua kaya abis di tonjok2


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: